Apakah rumah sudah menjadi tempat yang paling aman bagi mereka?.
Apakah sekolah menjadi ruang yang menyenangkan untuk belajar?.
Apakah media sosial yang kita gunakan setiap hari sedang meninggalkan jejak digital yang baik bagi anak-anak kita?.
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya akan menentukan wajah Indonesia beberapa tahun ke depan.
Sering kali kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa menikmati masa kecil anak-anak kita.
Kita bekerja dari pagi hingga malam demi memberikan kehidupan yang lebih baik, tetapi tanpa sadar kehilangan momen ketika mereka pertama kali menyebut nama kita, pertama kali bisa mengayuh sepeda, atau pertama kali menghafal doa sebelum tidur.
Padahal, anak-anak tidak mengingat seberapa mahal mainan yang diberikan orang tuanya. Mereka justru akan mengingat siapa yang menemani mereka bermain.
Mereka tidak akan mengingat berapa besar penghasilan papanya. Mereka akan mengingat siapa yang menggandeng tangannya ketika takut.
Mereka tidak akan mengingat berapa banyak hadiah ulang tahun yang diterima. Mereka akan mengingat pelukan yang membuat mereka merasa dicintai.
Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas. Namun kecerdasan saja tidak cukup. Dunia hari ini justru membutuhkan generasi yang memiliki empati, kejujuran, keberanian, dan akhlak yang baik.
Semua itu tidak diajarkan melalui ceramah panjang. Ia lahir dari keteladanan.
