PAGI selalu datang dengan cara yang sama. Matahari perlahan naik dari ufuk timur, burung-burung mulai bersahutan, dan kehidupan kembali bergerak seperti biasa.
Tapi, ada pagi-pagi tertentu yang terasa berbeda.
Pagi yang membuat waktu seolah berjalan lebih pelan, mengajak kita membuka kembali album kenangan yang selama ini tersimpan rapi di dalam hati.
Hari ini, 23 Juli 2026, adalah salah satu pagi itu.
Hari ini, putra kami, Uwais Faqih Al-Ghifari, genap berusia tiga tahun. Sebuah usia yang mungkin tampak kecil dalam hitungan kalender, tetapi begitu besar dalam perjalanan sebuah keluarga.
Yang membuat hari ini terasa semakin istimewa, tanggal kelahirannya selalu bertepatan dengan Hari Anak Nasional.
Seolah-olah alam sedang mengingatkan bahwa setiap anak bukan hanya milik keluarganya, melainkan juga titipan masa depan bagi bangsa.
Tiga tahun lalu, 23 Juli 2023, saat jam menunjukkan pukul 11 malam, kami menyambutnya dengan doa, harapan, dan rasa cemas yang bercampur menjadi satu.
Tangis pertamanya yang hampir menunjukkan pukul 12 malam, menjadi suara yang mengubah arah kehidupan kami.
Sejak hari itu, rumah tak lagi sekadar tempat pulang.
Rumah menjadi ruang tumbuh, tempat tawa berserakan di lantai, tempat langkah-langkah kecil mulai mengejar mimpi.
Anak-anak memang tidak pernah meminta lahir di dunia yang rumit.
