Mengapa Film Indonesia Sekarang Terasa “Gue Banget”?

Yuda Pranata - Jumat, 12 Jun 2026 - 19:22 WIB
Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Lampung, Gigih Yora Pratama, M.I.Kom
Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Lampung, Gigih Yora Pratama, M.I.Kom - ist

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

Oleh: Gigih Yora Pratama, M.I.Kom*

 

Ada satu komentar yang semakin sering muncul setelah seseorang menonton film Indonesia beberapa tahun terakhir: "Kok relate banget, ya?"

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, komentar itu sebenarnya menunjukkan perubahan penting dalam hubungan antara film dan penontonnya. Film Indonesia saat ini tidak lagi sekedar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cermin yang memantulkan kembali pengalaman hidup banyak orang.

Advertisements

Fenomena tersebut terlihat dalam sejumlah film yang hadir belakangan ini. Dalam Home Sweet Loan, penonton diajak menyaksikan perjuangan memiliki rumah di tengah harga properti yang terus meningkat. Paylater mengangkat persoalan utang digital yang semakin dekat dengan kehidupan generasi muda. 1 Kakak 7 Ponakan berbicara tentang beban menjadi tulang punggung keluarga, sementara Keluarga Super Irit menampilkan upaya bertahan hidup melalui pengelolaan ekonomi rumah tangga yang ketat. Di sisi lain, Tunggu Aku di Ujung Sukses dan Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah memperlihatkan bagaimana tekanan untuk berhasil dan kompleksitas relasi keluarga menjadi sumber kecemasan baru dalam kehidupan sehari-hari.

Jika diperhatikan, film-film tersebut memiliki pola yang sama. Konflik utama tidak lagi dibangun dari peristiwa luar biasa, melainkan dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Rumah, cicilan, pekerjaan, keluarga, dan masa depan menjadi sumber cerita yang terus berulang. Menariknya, tema-tema tersebut bukan sekadar hadir sebagai latar, tetapi menjadi pusat konflik yang menentukan perjalanan tokoh.

Dari perspektif komunikasi, kondisi ini menunjukkan adanya perubahan dalam strategi penceritaan. Film tidak lagi mengandalkan jarak antara penonton dan tokoh, melainkan justru membangun kedekatan. Semakin banyak pengalaman yang dikenali penonton, semakin besar peluang sebuah film diterima. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah cerita tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa spektakuler konflik yang ditawarkan, tetapi juga oleh seberapa dekat konflik tersebut dengan realitas audiens.

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kelas menengah menjadi kelompok yang menghadapi berbagai bentuk ketidakpastian. Harga rumah meningkat lebih cepat dibanding kemampuan membeli. Biaya hidup terus bertambah. Persaingan kerja semakin ketat. Di saat yang sama, media sosial menciptakan standar keberhasilan yang sering kali sulit dicapai. Akibatnya, banyak anak muda hidup dalam situasi yang paradoks. Mereka memiliki pendidikan, pekerjaan, dan akses teknologi yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya, tetapi tetap dihantui kecemasan mengenai masa depan.

Advertisements

Kecemasan tersebut kemudian menjadi bahan baku yang sangat kaya bagi industri kreatif. Apa yang sebelumnya hanya menjadi percakapan di media sosial, ruang kerja, atau meja makan keluarga kini berpindah ke layar lebar. Penonton tidak lagi melihat tokoh yang sepenuhnya berbeda dari dirinya. Mereka melihat orang-orang yang memiliki masalah serupa, kekhawatiran yang sama, bahkan impian yang tidak jauh berbeda.

Dalam konteks ini, film Indonesia sesungguhnya sedang merekam perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Keresahan mengenai rumah menunjukkan sulitnya mobilitas ekonomi. Fenomena paylater mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat digital. Cerita tentang sandwich generation yang menggambarkan bergesernya tanggung jawab keluarga pada generasi muda. Sementara narasi tentang kesuksesan memperlihatkan bagaimana pencapaian individu semakin dijadikan ukuran utama dalam kehidupan modern.

Menariknya, film-film tersebut juga memperlihatkan cara masyarakat memaknai masalah yang mereka hadapi. Banyak tokoh digambarkan berusaha menyelesaikan persoalan melalui kerja keras, penghematan, atau pengorbanan pribadi. Jarang sekali persoalan tersebut diposisikan sebagai bagian dari masalah sosial yang lebih besar. Akibatnya, penonton diajak melihat kecemasan sebagai sesuatu yang harus dihadapi secara individual. Jika gagal membeli rumah, misalnya, persoalannya dianggap terletak pada usaha yang belum cukup, bukan pada kondisi ekonomi yang lebih luas.

Di sinilah film menjadi menarik untuk dicermati, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cerminan perubahan yang sedang terjadi di masyarakat. Film tidak sekadar menampilkan realitas, tetapi juga membantu membentuk cara kita memandang realitas tersebut. Ketika tema tentang rumah, utang, pekerjaan, dan kesuksesan terus muncul dalam berbagai film, publik perlahan melihat persoalan-persoalan tersebut sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Advertisements

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements