Namun, OJK tetap memasang sikap waspada mengingat lanskap ekonomi global masih penuh divergensi. Amerika Serikat tercatat masih resilien dengan pasar tenaga kerja solid meski inflasi menanjak. Sebaliknya, Tiongkok masih bergelut dengan lemahnya konsumsi domestik, sementara aktivitas ekonomi Eropa tertahan oleh minimnya permintaan.
Sinyal perlambatan ini dipertegas oleh langkah OECD dan World Bank yang kompak memangkas outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,5 persen.
“Prospek pertumbuhan global masih dibayangi lemahnya permintaan, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya prospek higher for longer (suku bunga tinggi dalam waktu lama) yang memengaruhi risk appetite investor global,” jelas Friderica
Melihat situasi domestik, OJK tidak menampik adanya moderasi pada sejumlah indikator ekonomi nasional. Hal ini ditandai dengan merangkaknya inflasi, pelemahan indeks PMI manufaktur, menyusutnya surplus neraca perdagangan, hingga penurunan cadangan devisa.
Walau demikian, masyarakat dan pelaku pasar diimbau tidak panik. OJK memastikan bahwa ketahanan ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang aman.(gie/nca)
