BLAMBANGANUMPU – Para petani kelapa sawit di Kecamatan Negeri Besar dan Negara Batin, Waykanan mengeluhkan harga Tandan Buah Segar (TBS) yang terus mengalami penurunan tajam. Kondisi ini dinilai sangat memberatkan, terlebih saat harga minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di pasar justru mengalami kenaikan.
Salah satu petani setempat mengungkapkan, penurunan harga TBS terjadi sangat cepat dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut membuat para petani semakin kesulitan menutupi biaya produksi dan perawatan kebun. “Kemarin harga masih di angka Rp3.250 per kilogram, sekarang sudah turun di bawah Rp3.000. Sebelumnya juga sudah turun dari Rp3.400. Sempat naik sekitar Rp30, kami kira mulai membaik, tapi hari ini malah ada lapak yang tutup dan kami dapat kabar harga akan turun lagi sekitar Rp300,” ujarnya.
Para petani menduga anjloknya harga TBS berkaitan dengan kebijakan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam yang disampaikan Presiden, khususnya untuk minyak kelapa sawit (CPO). Dalam kebijakan tersebut, ekspor disebut akan dikendalikan dan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menurut mereka, kebijakan itu berdampak langsung terhadap harga jual di tingkat petani, meski harga produk olahan sawit di pasar masih mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat para petani merasa dirugikan. Tingginya biaya pemeliharaan kebun dan pemupukan dinilai tidak lagi sebanding dengan hasil yang diperoleh dari penjualan TBS saat ini.
Para petani berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga TBS agar kembali normal dan sejalan dengan harga produk turunannya. Mereka khawatir jika kondisi ini terus berlangsung, maka perekonomian ribuan keluarga petani sawit di wilayah tersebut akan terdampak semakin besar. (sah/nca)
