Tercatat, HLS Lampung meningkat dari 11,92 tahun pada 2012 menjadi 12,79 tahun pada 2025 atau bertambah 0,87 tahun. Sementara itu, RLS mencatat peningkatan yang lebih signifikan, yakni dari 7,30 tahun pada 2012 menjadi 8,61 tahun pada 2025 atau naik 1,31 tahun.
Kenaikan RLS yang lebih tinggi dibanding HLS menunjukkan semakin banyak penduduk usia dewasa di Lampung yang berhasil menyelesaikan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Data juga memperlihatkan posisi nasional Lampung relatif stabil, dengan RLS bertahan di kisaran peringkat 27 hingga 28 nasional, sedangkan HLS berada di kisaran peringkat 29 hingga 31 nasional.
Pada 2025, HLS Lampung tercatat sebesar 12,79 tahun atau peringkat ke-31 dari 38 provinsi, sedangkan RLS mencapai 8,61 tahun dan menempati posisi ke-28 nasional.
Data tersebut mengindikasikan bahwa peluang anak-anak Lampung untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang SMA terus terjaga, sementara kualitas pendidikan penduduk dewasa juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Masih terdapat selisih 4,18 tahun antara HLS dan RLS, yang berarti generasi muda memiliki kesempatan bersekolah hingga SMA, sedangkan rata-rata penduduk dewasa saat ini masih menamatkan pendidikan hingga kelas IX SMP.
Karena itu, percepatan peningkatan RLS menjadi salah satu fokus strategis yang dapat ditempuh melalui penguatan program pendidikan kesetaraan, penurunan angka putus sekolah usia 16–18 tahun, serta perluasan akses pendidikan menengah dan vokasi.
Dengan tren yang terus meningkat selama lebih dari satu dekade, sektor pendidikan di Lampung tentunya dapat semakin memperkuat kualitas sumber daya manusia, meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sekaligus memperbesar daya saing daerah di tingkat nasional.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Lampung, Thomas Amirico, mengatakan peningkatan kedua indikator tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan proses sekitar tiga hingga lima tahun.
"Proses meningkatkan angka ini memakan waktu tiga sampai lima tahun. Langkah-langkah yang kami lakukan didasarkan pada data yang ada," ujar Thomas saat dihubungi Radarlampung.co.id, Senin 6 Juli 2026.
Menurutnya, salah satu penyebab masih rendahnya HLS adalah minimnya motivasi sebagian anak untuk melanjutkan pendidikan, terutama di sejumlah wilayah pedesaan. Banyak siswa memilih langsung bekerja setelah lulus SMP karena sudah dapat memperoleh penghasilan.
"Setelah kami telusuri, memang banyak anak-anak yang tidak memiliki motivasi tinggi dan mimpi yang besar. Kebanyakan mereka lebih nyaman langsung bekerja setelah tamat SMP. Budaya dan pola pikir seperti inilah yang harus kita ubah, karena satu-satunya cara meningkatkan kualitas hidup adalah melalui pendidikan," katanya.
