Dino berpendapat Indonesia masih memiliki opsi mengirim Wakil Menteri Luar Negeri yang membidangi urusan dunia Islam, Anis Matta. Namun, menurutnya, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia dan Iran telah lama menjalin hubungan diplomatik yang baik tanpa pernah mengalami konflik berarti. Karena itu, kehadiran delegasi resmi dinilai dapat menjadi simbol persahabatan kedua negara sekaligus menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menjunjung hukum internasional.
“Kita seakan melupakan bahwa Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dengan hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Dino mengingatkan agar prinsip politik luar negeri bebas aktif tidak hanya disampaikan dalam pidato, tetapi juga diwujudkan melalui sikap diplomatik saat menghadapi isu-isu internasional yang sensitif.
“Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dalam situasi yang sensitif, kita bersembunyi. Please remember: bebas aktif adalah diplomasi berprinsip, bukan diplomasi sungkan,” tutupnya. (jpc/abd)
