JAKARTA – Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi pemerintah bersama petani, penyuluh, TNI/Polri, pemerintah daerah, akademisi, serta pelaku usaha di sektor pertanian.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (23/7), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan delapan komoditas yang telah memenuhi kebutuhan dalam negeri tersebut meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Menurut Amran, keberhasilan memenuhi kebutuhan domestik membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor untuk komoditas-komoditas tersebut. Bahkan, sebagian hasil produksinya mulai dipasarkan ke luar negeri.
“Cadangan beras pemerintah (CBP) telah menembus lebih dari 5 juta ton. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi sejak Indonesia berdiri,” katanya.
Tidak hanya itu, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan. Nilai tukar petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, sedangkan produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh 5,74%.
Amran menilai berbagai capaian itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah, mulai dari kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah, pembenahan tata kelola distribusi pupuk, sampai penurunan harga pupuk subsidi.
Ia memastikan pemerintah akan mempertahankan momentum tersebut melalui peningkatan produksi pangan, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat kesejahteraan petani.
Terpisah, Presiden Prabowo Subianto menegaskan sektor pertanian menjadi pilar penting dalam pembangunan nasional.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, Indonesia dinilai mampu mencatat kemajuan signifikan, mulai dari swasembada delapan komoditas pangan, cadangan beras pemerintah yang mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, hingga Nilai Tukar Petani yang berada pada level tertinggi sejak Indonesia merdeka.
Pernyataan itu disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurut Presiden, keberhasilan sebuah negara pada akhirnya diukur dari kemampuannya menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat.
"Setiap negara, setiap perekonomian itu pasti diukur. Kita bertanya, apakah bangsa itu bisa memberi pangan, memberi makan untuk rakyatnya. Itu yang paling mendasar. Untuk apa kita merdeka kalau kita tidak bisa memberi yang paling dasar dari sebuah peradaban, yaitu pangan," ujar Presiden.
