Kaya Komoditas, Lampung Miskin Nilai Tambah

Ekonomi Tumbuh 5,28 Persen, Hilirisasi Harga Mati
Prima Imansyah Permana - Selasa, 28 Apr 2026 - 20:49 WIB
Sekretaris Provinsi Lampung Marindo Kurniawan.
Sekretaris Provinsi Lampung Marindo Kurniawan. - Foto Biro Adpim

Follow Us:

Google News Radar Lampung Radar Lampung WhatsApp Channel
Advertisements

BANDAR LAMPUNG — Angka pertumbuhan ekonomi Lampung memang tampak baik, yakni di angka 5,28 persen pada 2025, melampaui tahun sebelumnya dan bahkan berada di atas rata-rata nasional.

Namun di balik angka yang tinggi itu, Provinsi Lampung masih terjebak sebagai penjual bahan mentah, sementara nilai tambah dinikmati daerah lain.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dalam forum Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Semester I 2026 yang digelar Bank Indonesia di Pesawaran, Selasa (28/4).

“Kita masih menghadapi tantangan besar. Komoditas kita banyak dijual mentah atau setengah jadi, sehingga nilai tambahnya justru dinikmati di luar Lampung,” tegasnya.

Advertisements

Pernyataan itu menjadi pengakuan bahwa struktur ekonomi Lampung masih rapuh di balik pertumbuhan yang tinggi.

Dalam paparannya, Marindo menyebut kinerja ekonomi Lampung menunjukkan tren yang menggembirakan.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2025 tercatat sebesar 5,28 persen, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 4,57 persen, bahkan melampaui rata-rata nasional.

“Capaian ini ditopang kuat oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang masih menjadi tulang punggung ekonomi Lampung,” ujarnya.

Advertisements

Menurutnya, Secara makro, Lampung memang mencatat capaian yang tidak bisa dianggap remeh. Selain pertumbuhan ekonomi yang menanjak, sejumlah indikator lain juga terlihat stabil, seperti Inflasi terkendali di kisaran 2,5 persen, Tingkat pengangguran berada di angka 4,14 persen dan Kemiskinan turun menjadi 9,6 persen.

Namun capaian ini belum cukup untuk mengklaim ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. Sebab, selama Lampung masih bergantung pada sektor primer tanpa pengolahan, maka Lampung hanya akan menjadi pemasok bahan baku murah dalam rantai ekonomi nasional.

Marindo menjelaskan, hilirisasi menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui hilirisasi, sektor pertanian diharapkan tidak lagi hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi mampu berkembang menjadi penggerak industri berbasis nilai tambah.

Share:
Editor: Yuda Pranata
Source:
Advertisements

Baca Juga

Rekomendasi

Advertisements
Yamaha

Berita Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Berita Terbaru

Advertisements

Berita Pilihan

Advertisements

Topik Populer

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

Foto Terbaru

Video Terbaru

Advertisements