Ia menjelaskan, sektor industri makanan masih menjadi penyumbang investasi terbesar di Lampung. Selanjutnya disusul sektor pertambangan, energi kelistrikan, serta sektor pertanian dalam arti luas yang meliputi tanaman pangan, perikanan, dan peternakan.
Data DPMPTSP mencatat investasi di sektor industri makanan mencapai sekitar Rp1,806 triliun. Posisi berikutnya ditempati sektor jasa lainnya sebesar Rp1,330 triliun, pertambangan Rp1,018 triliun, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi Rp680,6 miliar, serta perdagangan dan reparasi sekitar Rp476,8 miliar.
Samsurizal mengungkapkan, salah satu proyek strategis yang diperkirakan segera direalisasikan adalah pembangunan ekosistem bioetanol di Lampung.
Pemerintah bersama PTPN telah menyiapkan dua lokasi pengembangan, yakni di Rejosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, dan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran. Kedua lokasi tersebut juga telah ditinjau oleh pemerintah pusat.
"Insyaallah dalam waktu dekat akan dilakukan groundbreaking oleh pemerintah pusat. Kalau investasi ini terealisasi tahun ini, nilainya diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun," katanya.
Menurutnya, meski kondisi ekonomi global dan nasional masih menghadapi tantangan, Pemprov Lampung terus berupaya memberikan kepastian kepada investor bahwa Lampung merupakan daerah yang memiliki prospek investasi yang menjanjikan.
