“Yang paling sulit biasanya karakter kartun full body karena detailnya banyak,” ungkapnya.
Untuk pemasaran, Annisa lebih banyak menjual produknya secara offline. Ia rutin berjualan di Car Free Day Tugu Adipura setiap Minggu serta di Taman Kuliner Unila pada akhir pekan.
Konsumennya pun berasal dari berbagai kalangan dan mayoritas dari wilayah Bandar Lampung. Selain menjual produk yang sudah jadi, ia juga menerima pesanan custom sesuai permintaan pembeli.
Annisa menilai hasil rajutan kerap dipandang sebelah mata, padahal setiap produk memiliki nilai seni tinggi.
“Semua dibuat manual dengan penuh kesabaran dan kreativitas. Setiap rajutan punya cerita dan sentuhan pribadi,” tuturnya.
Ia pun membagikan pesan bagi pemula yang ingin mencoba merajut.
“Jangan takut untuk memulai. Mulai dari yang sederhana, nikmati prosesnya. Kesabaran dan ketekunan adalah kunci,” pesannya.(sintia/nca)