BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti dua persoalan utama yang berdampak pada kerusakan infrastruktur serta potensi banjir di wilayah Metro dan Lampung Tengah.
Dua persoalan tersebut adalah maraknya kendaraan bertonase besar yang melintas di jalan provinsi, serta saluran drainase yang ditutup oleh warga maupun pelaku usaha.
Hal itu disampaikan usai dirinya meninjau ruas Jalan Pattimura di Kota Metro atau jalur Metro–Kotagajah, serta ruas jalan Wates–Metro, Rabu (22/4).
Dalam peninjauan tersebut, Mirza menemukan sejumlah titik rawan genangan yang disebabkan tidak berfungsinya saluran drainase tersier karena tertutup aktivitas usaha di sekitar lokasi.
Ia menjelaskan, kawasan Metro–Kotagajah merupakan titik terendah di ruas jalan tersebut, sehingga air mudah berkumpul apabila aliran drainase tidak berjalan optimal.
“Di ruas ini ada beberapa tempat usaha yang menutup saluran buangan ke saluran utama, sehingga air akhirnya menggenang di titik ini,” ujarnya.
Menurut Mirza, meskipun telah dibangun saluran tambahan, kondisi topografi yang rendah tetap berpotensi menimbulkan genangan jika saluran tersier tidak difungsikan kembali.
Ia mengingatkan, dampak genangan tidak hanya mengganggu badan jalan, tetapi juga berisiko merendam permukiman warga di sekitarnya.
“Kalau jalannya sudah diperkeras mungkin tidak tergenang, tapi rumah warga yang akan terdampak,” tegasnya.
Untuk itu, ia meminta pemerintah kabupaten/kota segera mengambil langkah tegas, termasuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku usaha agar membuka kembali saluran drainase yang telah tertutup selama lima hingga enam tahun terakhir.
“Mulai besok kita dorong untuk dibuka kembali saluran yang lama,” katanya.
Selain persoalan drainase, Mirza juga menyoroti kerusakan jalan di ruas Wates–Metro yang dipicu oleh kendaraan bertonase besar.
